Rabu, 21 Maret 2018

IJINKAN AKU PAMIT

: JOGJAKARTA



Selamat malam, Jogjakarta 

Selamat tinggal 

Ijinkan aku mengecupmu sebelum kembali ke pelukan kotaku 

Tempat dimana bunga-bunga bermekaran dan udara sejuknya memanggilku pulang

Mungkin malam ini aku akan memimpikanmu, mungkin juga tidak, aku tak tahu

Namun syukur akan kupanjatkan atas takdir-Nya 

Mempertemukanku denganmu, mengenalmu, bercengkrama dan berbagi mimpi denganmu

Semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi, saat hujan tak sederas hari ini

Semoga kenangan tak lekang atas nama cinta-Nya

InsyaAllah. 


Devira,
Februari, 2018


"Hamemayu hayuning bawana"


RISALAH DARI BATAS JOGJA

Eccedentesiast


Seperti apakah kenangan yang menggelayut di pelupuk matamu itu? 
Hingga mampu membuatnya selalu berinai, berderai. 
Apakah sama halnya dengan reruntuhan bersejarah yang bergeming dalam dingin, di batas Daerah Istimewa ini? 

Sementara angin selalu berlalu lalang entah apa maksud dan tujuannya. 
Menggoda? 
Atau menyapa? 
Atau malah hanya tak sengaja berpapasan. 
Namun masih saja bebatuan itu bungkam. 
Kokoh dengan kesetiaan pada dia yang menorehkan ukiran2 di tubuhnya, serta yang menjulangkan mimpi2nya hingga membelah awan2 di langit. 

Ya, dia setia. 
Tapi bagaimana dengan dirimu? 
Diam-diam dalam tangismu di selaksa malam, engkau memaki dirimu sendiri. 
"Bodoh!" 
Kebodohan yang kau sangkal di wajahmu. 
Jika saja perisai itu luruh, sungguh hatimu sangat mengetahui kebenarannya.


Devira,
Jogja, Feb 2018

"Hamemayu hayuning bawana"












PUISI : JANUARI DI MATAMU

JANUARI DI MATAMU


pernahkan kau merasa getar di nadi?
bukan birahi perawan yang terjamah
bukan pula derak ranting yang patah
itulah erangan cemas januari di matamu


begitu pula bintik-bintik yang meradang besar-besar
bukan cacat permanen pada kulit
bukan pula marka lahir yang bertahan seumur hidup
itulah jejak memori januari di matamu


masih,
rindu yang bersulur-sulur menjuntai
menusuk tajam di ujung-ujungnya
bersama rinai yang terus merintik
dan januari luruh dari matamu


Devira,
Januari, 2015

(telah terbit di Rebana Analisa Minggu, 29 Maret 2015)



MUNAFIK (Malaysian Horor Movie, 2016)

MUNAFIK, 2016
Horor Syar'i



Film ini bergenre Horor Syar'i produksi negara tetangga (Malaysia). Kenapa saya sebut Horor Syar'i? Karena di dalamnya tidak ada adegan panas seperti pada film Horor pada umumnya. Selain itu penyembuhan dilakukan dengan metode islami yang benar, bukan melalui praktek perdukunan yang menyaru islami.







Bercerita tentang Adam, seorang ustadz yang memiliki kemampuan menyembuhkan orang-orang yang diganggu jin/iblis melalui Ruqyah. Sifatnya yang tenang dan tawadhu membuatnya disukai banyak orang. Namun semua berubah setelah istrinya meninggal dunia akibat kecelakaan yang disengaja seseorang. Semenjak itu ia berubah menjadi pemarah dan pendendam.


Banyak pesan religi yang dapat ditemukan di film ini. Satu hal yang menarik bagi saya adalah film ini juga bercerita tentang pemaafan dan rasa bersalah. Bagaimana pengaruh tidak memaafkan dan rasa bersalah terhadap keadaan psikologis seseorang. Ketika seseorang tidak menerima keadaan yang terjadi maka hidupnya akan diliputi rasa tidak tenang. Menciptakan keraguan dan rasa was was dalam hatinya. Melemahkan imannya. Karena film ini memang ada unsur mistisnya, pada awalnya sulit membedakan mana dampak ilmu sihir dan mana dampak psikologis. Dan memang terkadang simptom psikologis mirip seperti gangguan jin, atau sebaliknya. Seperti kasus histeria yang mirip seperti orang kerasukan. Namun satu persamaan yang saya dapatkan adalah baik gangguan jin maupun gangguan psikologis lebih mungkin menyerang kita saat kita dalam kondisi lemah iman.




Di endingnya film ini memberikan suatu pemahaman yang menurut saya adalah inti dari film ini. Rasa bersalah yang dibawa sampai sakratul maut dan bahwa memaafkan dimulai dari menerima kenyataan. Maria (gadis yang menyebabkan kecelakaan keluarga Adam) yang hidupnya selalu was-was karena menyimpan rasa bersalah, akhirnya mengakui perbuatannya sesaat sebelum kematiannya. lalu, ternyata selama ini yang telah meninggal dalam kecelakaan itu bukan hanya istri Adam. Namun, Adam yang sangat berduka dan marah saat menyaksikan istrinya meninggal dunia, menolak mengakui bahwa anak mereka juga ikut meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. 



Konsep duka cita (grief) telah sering kali dibahas pada berbagai literatur yang berhubungan dengan peristiwa kehilangan dalam hidup. Menurut Santrock (2002) grief adalah suatu kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan perpisahan, sedih, putus asa, dan kesepian yang menyertai di saat seseorang kehilangan orang yang dicintai. Hampir sama dengan Santrock, grief menurut Sanders (1998) merupakan penderitaan emosional yang kuat dan mendalam, yang dialami seseorang akibat peristiwa kehilangan seperti kematian orang yang dicintai. Adam yang menyaksikan sendiri istri tercintanya meregang nyawa tidak mampu membendung kesedihan saat itu. Perasaannya semakin intens ditambah dengan rasa marah dan dendam karena kecelakaan yang menyebabkan kematian istrinya adalah hal yang disengaja oleh seseorang yang tidak ia kenal. Akibatnya, ia pun menjadi kesulitan menerima kenyataan bahwa ia juga telah menyaksikan anak semata wayangnya meninggal dunia, yang ia temukan setelah istrinya meninggal dunia. Kondisi ini disebut Sanders (1998) sebagai feeling of unrealiy sebagai reaksi awal (shock) terhadap grief. Yaitu kondisi dimana orang yang kehilangan orang yang dicintai tidak dapat menerima kenyataan dan memilih percaya bahwa orang yang telah meninggal tersebut masih hidup bersamanya.





Tidak ada obat jiwa yang paling mujarab selain ikhlas merima kekecewaan dengan hati yang ridho. Selama kita tidak memaafkan selama itu kita tidak mendapatkan ketenangan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah (QS. Al-Baqarah : 156).

****000****


Mmm.. jadi teringat dengan skripsi bertema Forgiveness yang saya buat beberapa tahun silam. Buatnya pake baper, selesainya pake happy. Terus jadi teringat tesis. Semoga happynya menyertai tesis juga, bapernya gak usah :”)


Filmnya bisa ditonton di sini :

film Munafik (2016)
atau 
film Munafik2 (2016)


Semoga bermanfaat ^_^


Salam,

Devira


PUISI : SETELAH HUJAN

SETELAH HUJAN

lukisan itu masih tersimpan 
dalam bilik penuh lorong-lorng dingin
terkubur dalam makam memoar
nisan yang tertancap
diukir dengan darahmu dan darahku
di sebelahnya ada bara
menyala-nyala di jantung perapian
seberapa panjang perjalanan?
bintang menghitung jejaknya, bukan?

kau terdiam sejenak
membiarkan rembulan memucat sendu di wajahmu
"hujan hanya meneteskan duka, Vi,"
katamu sebelum menghilang di balik malam
membawa serta bayang dan kenang

setelahnya dia akan memulihkan luka, 
bisikku dalam hati
kau pasti akan kembali
pasti

Devira,
Medan, 2015


(telah terbit di Rebana Analisa Minggu, 29 Maret 2015)


Senin, 19 Maret 2018

VERA DRAKE : A story about naive kindness (film Forensik 2004)

VERA DRAKE. 2004
Story about naive kindness.


Di sela-sela waktu yang luang ini, saya mencari-cari film bagus untuk ditonton. Kepingin nonton yang ber-genre crime gitu. Tetiba ingatan saya terbang ke masa kuliah S1 beberapa tahun lalu. Saat itu, dosen yang mengajarkan mata kuliah psikologi Forensik meminjamkan saya DVD film Vera Drake agar saya dapat belajar darinya.



Berbeda dengan film forensik pada umumnya yang banyak bercerita tentang misteri, detektif, serial killer, atau psikopat, film ini bercerita tentang seorang wanita yang teguh atas sesuatu yang ia yakini : 
MENOLONG ORANG YANG MEMBUTUHKAN.





Berseting tahun 1950an, film ini mengangkat cerita tentang seorang wanita penyayang nan baik hati. Ia hidup bahagia bersama keluarga kecil yang sederhana, dengan suami yang sangat mencintainya dan anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Vera dengan sabar dan ikhlas mengurus keluarganya serta dengan suka rela membantu orang yang membutuhkan di sekitarnya. Ia juga membantu finansial keluarga dengan menjadi asisten rumah tangga di beberapa rumah orang kaya dan bekerja paruh waktu di sebuah pabrik. Namun sebenarnya Vera memiliki rahasia kelam yang kemudian menjadi tragedi besar dalam keluarganya.



Vera melakukan praktek aborsi. Vera yang baik hati  tidak sampai hati melihat penderitaan gadis-gadis muda yang hamil di luar nikah. Ia memutuskan untuk menolong mereka demi menyelamatkan masa depan gadis tersebut. Vera menemukan cara aborsi yang menurutnya mudah dan aman yaitu dengan mengisi rahim gadis itu dengan air campuran sabun hingga terasa penuh. Setelah beberapa waktu, janin akan luruh dan rahim akan bersih. Dan cara ini selalu berhasil. Ya, ia tahu perbuatannya salah, namun ia merasa senang karena mampu membantu orang yang membutuhkan. Vera kemudian dijadikan rekomendasi untuk melakukan aborsi ilegal. Pekerjaan tersebut dilakukannya dengan tulus, tanpa bayaran sama sekali. Vera memiliki seorang teman, Lili, yang ternyata menjadikan upaya "menolong" Vera menjadi lahan bisnis untuk keuntungan pribadinya. 


Semua baik-baik saja hingga ada seorang gadis yang mengalami infeksi hingga hampir meninggal dunia setelah aborsi. Setelah diselidiki, polisi menangkap Vera sebagai tersangka perbuatan kriminal dengan sadar dan disengaja. Tentu saja, keluarganya tidak ada yang percaya Vera dapat melakukan tindakan melanggar hukum. Dari situ terbongkarlah praktek aborsi ilegal yang dilakukan Vera selama bertahun-tahun. Bahkan dirinya tidak ingat sudah berapa lama ia melakukan praktek aborsi dan berapa banyak gadis yang ia "bantu".  




Vera yang malang pasrah dengan keputusan pihak berwajib, hanya bisa meneteskan air mata sambil berkata bahwa ia hanya merasa kasihan dan mencoba menolong gadis-gadis yang crying for help itu. Vera memang baik hati, orang-orang yang mengenalnya membenarkan hal itu. Bahkan suaminya juga mengakui memilihnya sebagai istri karena kebaikan hatinya. Pada akhirnya pengadilan memberikannya vonis 2,5 penjara.




*****

Saya pernah diajarkan, kalau suatu saat saya dihadapkan pada situasi dimana harus memilih antara baik dan benar, maka pilihlah yang benar. Kenapa? Karena baik belum tentu benar, namun kebenaran selalu bertujuan untuk kebaikan. Dan batas antara benar dan salah itu jelas telah diatur dalam hukum, agama, dan norma yang berlaku. 


Semoga bermanfaat.

Filmnya bisa ditonton di sini : Film Vera Drake
(Tapi gak nemu yang ada subtitle Indonesianya)



Bandung, Maret 2018

Jumat, 24 November 2017

Tentang Bullying




Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman dari kampus sebelah. Saat saya datang, ia dan temannya yang sedang membahas tentang bullying. Kemudian mereka menanyakan pendapat saya sebagai orang psikologi. Saya langsung teringat video ini dan menunjukkan pada mereka. Check the video below :")





Di video ini dipaparkan apa sih motif nya pembully --> Hasrat untuk menang. Lalu kenapa ada orang yang begitu bernafsu ingin menang bahkan sampai melakukan tindakan yang tidak pantas? Menurut saya jawabannya sederhana. Frustrasi.

Frustrasi, berasal dari bahasa Latin "frustratio", adalah perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan. Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan. Rasa frustrasi bisa menjurus ke stres. Lebih jauh lagi frustrasi dapat menjurus ke perilaku agresi. Menurut teori lawas dari Dollard et al (1939) bahwa frustrasi pasti akan menimbulkan agresi dan agresi muncul karena frustrasi. Teori ini dikenal sebagai teori frustrasi-agresi. Kemudian Miller (1941) merevisi teori ini. Menurutnya frustrasi tidak selalu menimbulkan agresi. Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki kebebasan memilih respon yang akan dimunculkannya. Ada bermacam respon yang dapat dihasilkan oleh frustrasi itu sendiri, sehingga tidak pasti menimbulkan agresivitas. Teori yang lebih baru Berkowitz (1989) yang mengatakan bahwa hanya frustrasi yang menimbukan rasa marah yang memicu perilaku agresif. (Mungkin ada teori yang lebih baru boleh dishare ^_^)

Lalu, coba bayangkan ada seseorang yang menginginkan sesuatu dan berusaha keras untuk mendapatkannya. Namun pada akhirnya malah orang lain (yang menurutnya tidak berusaha sekeras dia) yang mendapatkannya. Frustrasi sekali kan? Kemudian orang yang frustrasi tersebut bereaksi dengan membully hingga membuat korban bully ikut frustrasi juga. Lalu apa yang terjadi? Korban bully membalas dengan menjadi pembully newbie. Begitu seterusnya hingga menjadi semacam cycle of violence. Membayangkannya saja sudah membuat frustrasi yaa :D

Di video ini, ada trik bagus dalam menghadapi pembully yaitu membalasnya dengan kasih sayang. Tentu sulit untuk standar manusia bukan setengah malaikat seperti kita untuk mengasihi pembully. Saya sendiri merasakan keefektivan cara di video tersebut. Namun, di satu titik saya menyadari ada orang yang semakin dikasihi malah semakin ganas. Nahh, di situ saya teringat statement JK Rowling : "don't pity the dead, pity those who live, espesially those who live without love". Kalau tidak bisa mengasihi, kita bisa mencoba mengasihani. Karena memang ada orang-orang tertentu yang tidak paham bahwa dirinya hanya butuh cinta.

Saya termasuk orang yang menentang agresi dalam bentuk apapun. Hidup memang keras dan tidak adil. Kenyataan sering kali rasanya pahit. Tapi itu bukan berarti dapat dijadikan justifikasi untuk menyakiti atau menghalangi hak orang lain. Saya yakin pasti ada cara untuk mendapatkan tujuan selain dengan agresi. Saat saya katakan hal itu, teman dari teman saya berkata spontan, pasti hidup saya senang-senang saja dan tidak pernah berada di situasi sulit yang memaksa saya berbuat di luar batas. Kata siapa?? Semua orang punya masalahnya masing-masing, punya "luka" masing-masing. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Hanya saja tiap orang berbeda-beda dalam bereaksi terhadap masalah yang dihadapinya.

Beberapa waktu lalu di tengah kegalauan, saya bertukar pikiran dengan seorang dosen. Beliau menasehati saya bahwa kita tidak bisa memilih kehidupan seperti apa yang datang pada kita, namun kita bisa memilih bagaimana reaksi yang kita munculkan. Jika tidak mampu memilih reaksi apa yang tepat, maka tidak bereaksi menjadi pilihan yang paling tepat. Bodoh sekali yaa? Nope. Ada kalanya diam itu emas. Sakit? Iya. Tapi jika sudah melaluinya, baru sadar bahwa semua baik-baik saja. Itu lah hidup. Dan jelas itu jauh lebih baik dari pada salah bertindak, masuk jurang dan menyesal.

Semua sudah ada yang mengatur, Dia Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik.
InsyaAllah istiqomah ^__^
.
.
Just sharing, semoga bermanfaat.
Perjalanan menuju Bandung,
23 November 2017.