Sabtu, 14 Desember 2019

HICHKI : Film Hindi Bertema Pendidikan Yang Mengaduk Emosi




Saya bukan penggemar film Bollywood. Karena dalam ingatan masa kecil saya, film Bollywood identik dengan adegan-adegan tidak masuk akal dan alur cerita yang sangat mudah ditebak. Ya itu lah film Bollywood jaman dulu, sebelum negara api menyerang hahaa. Maksudnya sebelum Shahrukh Khan, Aamir Khan, Rani Mukerji, Kajol Devgan dan teman-temannya menginvasi perfilman di sana. Kini film Bollywood banyak yang bermutu dan sangat menyentuh sisi emosional. Tema paling umum yang diangkat adalah keluarga, hubungan orang tua dan anak, romansa, serta pendidikan.


Ada beberapa film Bollywood bertema pendidikan yang recommended banged. Sebut saja "3 Idoits" yang bercerita tentang kampus terkenal pencetak insinyur terbaik di kota itu dengan rektornya yang sangat strict dan kompetitif sehingga membuat mahasiswanya stres bahkan ada yang bunuh diri. Kisah dimulai ketika seorang jenius menjadi mahasiswa di sana dan mengubah sistem kampus dengan cara yang tidak biasa. Ada lagi film "Taare Zameen Par" yang bercerita tentang siswa disleksia yang mengalami kesulitan belajar sehingga dilabel pemalas, nakal, dan idiot. Namun semua berubah ketika seorang guru unik datang ke sekolahnya dan menemukan bahwa siswa yang dianggap tidak punya harapan tersebut ternyata berbakat di visual art. Berkat didikan dan perhatian sang guru, siswa tersebut mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya dan menjadi berguna.


Ada satu film lagi yang bertema pendidikan, proses belajar mengajar dan interaksi guru-siswa yang unik dan menyentuh. Judulnya "Hichki" (2018). Dalam bahasa Hindi, Hichki artinya cegukan. Berkisah tentang seorang wanita cerdas berpendidikan S2, dan bercita-cita ingin menjadi guru. Namun kekurangannya yang dimilikinya menghambatnya mencapai cita-cita tersebut. Sekolah manapun tempat ia melamar pekerjaan selalu tertarik dengan CVnya yang bagus. Namun sayangnya ia selalu ditolak saat proses wawancara dikarenakan kekurangannya tersebut. Wanita tersebut memiliki Sindrom Tourrete yang membuatnya sering cegukan tanpa kontrol. Cegukan akan semakin intens saat ia gugup atau stres. Pihak sekolah mengatakan bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan komunikasi verbal yang baik dan disukai anak didik. Dengan sindrom yang dimilikinya, tentunya ia akan kesulitan berkomunikasi dan akan menjadi bahan olokan di kelas. Maka, proses belajar mengajar tidak akan efektif.


Lima tahun kemudian, setelah ditolak di sana-sini, wanita tersebut diterima mengajar di sekolah tempat ia bersekolah dulu. Ternyata sekolah tersebut menerimanya karena ada kondisi khusus di kelas dimana wanita tersebut ditempatkan menjadi wali kelas.


Banyak sekali pelajaran moral yang dapat kita ambil dari film ini. Bagaimana diskriminasi terhadap perbedaan kasta dan kemampuan belajar dapat mempengaruhi interaksi di sekolah. Bagaimana mengajarkan etika dan karakter kepada anak didik, dan betapa dua hal itu lebih penting daripada nilai bagus dan sebuah lencana penghargaan. Bagaimana seorang guru cerdas namun memiliki kekurangan yang membuatnya diremehkan dan mendapat didiskriminasi di sana sini, bahkan dari ayah kandungnya sendiri. Dan bagaimana kesabarannya dalam mendidik siswa-siswa yang dilabel Failure dan bermasalah.


Bagian yang paling membuat saya merinding adalah saat seorang siswa mengaku kepada guru kesayangannya bahwa dirinya lah dalang sebuah kejahatan yang terjadi di sekolah itu. Siswa tersebut mengatakannya dengan bangga seolah mengharapkan pujian dari sang guru. Siswa tersebut berkata, "KITA telah berhasil...". Sang Guru tertegun mendengar kata "KITA" yang disebut siswanya karena nyatanya sang guru tidak terlibat apapun dalam kejahatan tersebut. Saat itu ia pun mengerti bahwa sadar atau tidak, dia lah yang telah mengajarkan kejahatan kepada anak didiknya. Dia telah menanamkan pemahaman yang keliru sehingga siswanya merasa bangga setelah melakukan hal yang salah.


Saya tidak ingin bercerita panjang tentang film ini karena akan mengganggu proses emosional Anda saat menonton nanti. Jangan lupa siapkan tissue yang banyak.


Tulisan ini saya tutup dengan quote terkenal dari Theodore Roosevelt : "People don't care how much you know, until they know how much you care".


Semoga bermanfaat.


Salam,
Devira Sari, psikolog.
2019

SIAPA BILANG IQ TIDAK DAPAT DI-UPGRADE?

INTELIGENCE NOTE
oleh : Devira Sari

Sering kita mendengar keluhan orang tua mengenai kemampuan koqnitif anak-anak mereka, khususnya orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dimana terdapat gangguan pada bagian saraf dan otak anak.

Pada dasarnya otak akan berhenti berkembang pada suatu titik tertentu pada tahap perkembangan, sebagian besar pada usia 2-4 tahun, bagian lain sekitar usia 9 tahun dan pada akhirnya otak berhenti berkembang pada usia sekitar 18-23 tahun. Otak tidak dapat bertambah besar atau mengganti bagian yang telah rusak, namun bagian saraf otak yang rusak dapat diaktifkan kembali dengan stimulasi konstan. Menurut Doman-Delacato otak tidaklah statis melainkan bersifat dinamis dan dapat dimodifikasi. Kemampuan ini dikenal sebagai NEURO-PLASTICITY. Misalnya, seseorang yang mengalami cedera otak sehingga mempengaruhi sensori perabaannya maka dengan stimulasi yang konstan pada bagian otak yang tepat akan mengaktifkan kembali kemampuan perabaannya yang tadinya rusak. Dengan kata lain, otak mampu tumbuh baik fungsi maupun anatominya dan membenahi diri dengan membentuk saraf baru untuk digunakan sepanjang hidup.

Glenn Doman dan Carl Delacato mendirikan sebuah lembaga yang membantu anak-anak dengan brain injured melalui program-program untuk mengaktifkan bagian otak yang rusak. Program yang dilakukan adalah patterning, merayap, merangkak, receptive stimulation, expressive activities, masking, brachiation dan latihan gravitasi/melawan gravitasi. Program ini merupakan representasi dari tahap perkembangan manusia. Menurut Doman dan Delacato perkembangan otak terganggu apabila tahapan tersebut terlewati dan dengan mengulang kembali tahap tersebut maka saraf-saraf di otak akan diaktifkan kembali. Mereka juga menyatakan, sesuai dengan teori neuroplasticity, dengan meningkatkan stimulasi sensori akan mengembangkan otak dan memperbaiki fungsi-fungsi neurologis. Berbeda dengan terapi obat-obatan, metode ini dianggap lebih alami dan tidak memiliki efek samping negative. Pada teori ini juga dijelaskan bahwa kurangnya oksigen dalam otak merupakan penyebab utama masalah brain injured pada anak, maka dalam program mereka juga meliputi teknik meningkatkan supply oksigen ke otak.

Dengan metode ini diharapkan anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat melihat, mendengar, berbicara dan merasa dengan lebih baik serta mampu bergerak lebih luwes. Dengan demikian, anak pun mampu belajar lebih cepat untuk menguasai tugas-tugas perkembangan selanjutnya dan tentunya menjalani kehidupan dengan lebih efektif. Metode Doman Delacato telah terbukti bermanfaat bagi banyak anak-anak dengan kebutuhan khusus di dunia.


Devira
26 Okt 2010


(Tulisan lama, tahun 2010, saat saya bekerja sebagai terapis anak berkebutuhan khusus)

PENANGANAN UNTUK ANAK-ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

ABK NOTE
oleh : Devira Sari

Meningkatnya jumlah anak-anak dengan kasus tumbuh kembang di Indonesia khususnya di Sumatera Utara – ini diketahui dengan banyaknya anak-anak yang mengikuti terapi di YaKiTa School yang ternyata berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara (Medan, Brastagi, Kabanjahe, Rantau Prapat, P. Sidempuan, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi) tanpa memandang Etnis, Agama, Status Sosial dan Latar belakang keluarga – merupakan suatu issue Nasional yang sering dibahas dalam dunia kesehatan dan pendidikan anak.

Brain injured adalah suatu keadaan dimana otak mengalami cedera yang disebabkan oleh adanya masalah pada saat sebelum, selama atau setelah proses kelahiran dan berdampak pada perkembangan anak selanjutnya. Ada banyak label yang diberikan untuk brain injured tergantung gejala yang ditimbulkannya, antara lain AUTISM, ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVE DISORDER (ADHD), ATTENTION DEFICIT DISORDER (ADD), DOWN SYNDROME, CEREBRAL PALSY, ASPERGER, DYSLEXIA, DYSPRAXIA, dan lain sebagainya.

Penyebab brain injured selalu jadi pertanyaan dari masa ke masa. Saat ini diyakini bahwa brain injured terjadi karena adanya gangguan pada saat sebelum, selama atau setelah proses kelahiran. Gangguan saat sebelum kelahiran atau masa kehamilan terjadi apabila si ibu keracunan logam berat seperti merkuri, terkena infeksi virus Herper, jamur, mengkonsumsi obat-obatan keras sehingga pertumbuhan otak janin terganggu. Gangguan selama proses melahirkan terjadi bila anak mengalami kekurangan oksigen berat (Hypoxia). Sedangkan gangguan selama masa kanak-kanak atau setelah kelahiran terjadi karena adanya infeksi virus, jamur atau bakteri terutama di dalam usus sehingga anak mengalami regresi perkembangan dan menunjukkan gejala brain injured.

Dampak brain injured bermacam-macam. Pada kasus autisme misalnya, anak mengalami gangguan dalam komunikasi verbal dan nonverbal, masalah emosi dan perilaku, masalah interaksi sosial dan gangguan persepsi sensoris. Pada kasus cerebral palsy, anak mengalami hambatan perkembangan motorik, refleks yang menetap, masalah pendengaran, penglihatan dan kemampuan berpikir. Lain lagi pada kasus ADHD dimana anak menunjukkan kesulitan dalam memusatkan perhatian disertai rasa resah dan gelisah, sulit duduk diam, tidak sabar menunggu giliran dan terlihat ceroboh. Pada umumnya anak-anak dengan kasus brain injured memiliki umur mental jauh di bawah umur kronologisnya.

Semua gejala ini tentunya akan mengganggu / menghambat terpenuhinya tugas-tugas perkembangan yang seharusnya dilalui setiap manusia. Dampaknya di masa depan meliputi masalah sosial, edukasional dan okupasional. Oleh karena itu dibutuhkan penanganan sejak dini yang tepat. Ada macam-macam terapi yang biasa dilakukan untuk menangani brain injured seperti terapi sensori, terapi perilaku, terapi wicara dan fisioterapi. Apapun terapi yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan anak dan yang paling utama adalah mengatasi penyebabnya, bukan sekedar mengatasi gejalanya saja.


DEVIRA – Nov 2010


(Tulisan lama, tahun 2010 saat saya bekerja sebagai terapis anak berkebutuhan khusus)

Senin, 28 Oktober 2019

EDUKASI TERAPI FORGIVENESS



Konon katanya, waktu dapat menyembuhkan segala luka hati. Saya sempat menjadi orang yang percaya akan kalimat ini.

Namun ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar. Coba saja Anda berkunjung ke panti jompo, dengarkan cerita para lansia di sana. Dan Anda pun akan takjub bahwa ada lansia yang luka hatinya masih menganga, padahal kejadiannya sudah lewat puluhan tahun. Dari konten dan ekspresinya saat bercerita, Anda akan dapat merasakan kemarahan dan kebenciannya.

Luka hati tidak sembuh dengan sendirinya. Butuh penanganan psikologis agar dapat benar-benar sembuh.

Sekitar satu dekade lalu, saya melakukan penelitian terhadap orang dewasa yang mengalami kekerasan di masa anak. Menarik sekali, ternyata memang luka hati dan dendam bisa bertahan, terpendam dalam diri hingga bertahun-tahun lamanya. Semakin lama malah semakin dalam perasaan sakitnya, dan semakin banyak modifikasi ingatan akan kejadian di masa lalunya.

Alhamdulillah penelitian tersebut mendapatkan predikat terbaik dan ringkasannya telah dibukukan dalam antologi karya ilmiah.

Setelahnya, saya bertemu orang-orang baru, baik klien maupun bukan klien. Saya menemukan bahwa memang banyak orang yang terobsesi dengan kemarahan, kebencian dan dendam. Mereka hidup di masa lalu yang menyakitkan dan enggan move dari sana. Banyak juga yang menjadikan dendam sebagai motivasi untuk sukses, yang pada akhirnya malah menumbuhkan dendam-dendam baru.

Ada pula kasus hambatan komunikasi interpersonal pada orang terdekat, seperti pada pasangan, orang tua, anak, sahabat, rekan, dll. Ternyata hambatan tersebut akarnya adalah kemarahan yang tidak disampaikan atau belum selesai. Pada akhirnya juga menghambat semua aspek kehidupan berelasi orang tersebut.

Beberapa waktu lalu saya praktek kerja di Rumah Sakit dan membuat penelitian terhadap pasien penyakit kronis. Ternyata sakit psikis memang punya hubungan timbal balik dengan sakit fisik. Pasien-pasien yang lebih lama sembuh memiliki gangguan psikologis yang sama seperti cemas, stres, psikosomatis. Setelah saya ajak mengobrol, ternyata mereka mengalami kondisi psikologis yang lebih spesifik lagi yaitu kemarahan yang terpendam. Marah dengan keadaan, marah dengan masa lalu, marah dengan orang-orang, bahkan marah dengan Tuhan. Namun, begitu mereka berhasil melepas kemarahan, ikhlas memaafkan, dan menerima keadaan, kesembuhan lebih cepat dicapai. Paling tidak, mereka lebih tenang dalam menjalani proses pengobatan panjang dan sering kali menyakitkan, yang pada akhirnya juga mempercepat proses penyembuhan.

Nah, tulisan saya di buku ini saya ramu berdasarkan penelitian dan kasus-kasus tersebut. Saya menemukan pola yang sama dari orang-orang yang tidak mau melepas rasa sakit hatinya. Saya tarik esensinya menjadi satu artikel yang lebih ringan untuk dibaca dan dipahami. Bagaimana cara memaafkan yang benar dan dampaknya bagi kesehatan. Tulisan saya bersifat self-healing yang tidak hanya memberikan pemahaman namun juga dapat Anda praktekkan sendiri di rumah.

Semoga bermanfaat.


Salam,
Devira Sari, S. Psi, M. Psi, Psikolog.

2019

Senin, 17 Juni 2019

NASRUDDIN HOJA DAN KELEDAINYA (2)


NASRUDDIN HOJA DAN KELEDAINYA (2)
.
.
Nasrudin Hoja terkenal dimana-mana. Bahkan banyak negara mengaku sebagai asal Nasrudin. Saking terkenalnya, patung Nasrudin pun dibuat di Bukhara. Karena Nasrudin tidak bisa dipisahkan dari keledainya, pembuat patung rela mengeluarkan biaya lebih besar untuk membuat patung keledainya juga.

Selain dikenal sebagai filsuf yang jenaka, Nasruddin Hoja juga merupakan seorang yang banyak akal dan optimis.

Pernah suatu ketika ia dipanggil rajanya. Raja memintanya mengajari keledai membaca. Jika Nasruddin berhasil, raja akan memberinya hadiah yang besar. Namun jika ia gagal, maka ia akan dihukum.

Nasruddin meminta waktu tiga bulan dan biaya untuk keperluan melatih keledai membaca. Tiga bulan kemudian, Nasruddin kembali ke istana dan menghadap raja. Di sana raja sudah menyiapkan sebuah buku besar yang akan dibaca oleh keledai. Nasruddin pun menuntun keledainya ke arah buku tersebut. Si kedelai memandang buku tersebut, lalu mulai membuka lembar demi lembar.

Melihat hal tersebut sang raja pun takjub. Namun terbersit pula rasa curiga, bagaimana mungkin seekor keledai bisa membaca buku? Raja pun bertanya pada Nasruddin bagaimana caranya ia mengajari keledai membaca. Nasruddin bercerita bahwa setiap hari ia meletakkan lembaran-lembaran besar mirip buku dihadapan keledainya. Di setiap lembar buku tersebut ia sisipkan biji-biji gandum. Akhirnya keledai terbiasa membalikkan lembaran-lembaran tersebut demi mendapatkan biji gandum untuk dimakan.

Mendengar jawaban Nasruddin raja tersadar, berarti keledai itu hanya membalik setiap lembar buku dan bukan membacanya. Raja protes dan marah pada Nasruddin. Kemudian dengan percaya diri, Nasruddin menjelaskan,

“Memang demikian cara keledai membaca, Tuan Raja. Hanya membalik-balik halaman buku, tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka buku-buku tanpa mengerti isinya, bukankah kita bisa disebut setolol keledai?"

Raja tertegun mendengar jawaban Nasruddin Hoja. Seketika itu pula amarah raja berubah menjadi tawa terpingkal-pingkal.

Mengajari keledai membaca adalah hal yang mustahil menurut akal. Namun Nasruddin tidak kehabisan akal. Dia yakin mampu menyelesaikan tantangan yang diberikan padanya. Bahkan ia juga mampu mengajarkan raja suatu hikmah.
.
.
Semoga bermanfaat
Devira
16 Juni 2019

NASRUDDIN HOJA DAN KELEDAINYA (1)



NASRUDDIN HOJA DAN KELEDAINYA
(Kita tak Bisa Menyenangkan Semua Orang)
.
.
Saya yakin Anda sudah mengetahui tentang kisah ini. Namun, banyak dari kita (termasuk saya) tidak ''ngeh'' bahwa cerita itu bersumber dari seorang tokoh Muslim bernama Nasruddin Hoja.

Nasruddin Hoja berasal dari Turki yang hidup pada abad 13. Ia adalah seorang filsuf yang terkenal dari kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Tak sekadar mengundang tawa, leluconnya juga penuh makna filosofis dan memicu orang untuk berpikir.

Salah satu kisah jenakanya yang terkenal adalah kisah tentang Hoja dan keledainya.

Suatu ketika Nasruddin dan anaknya pergi ke pasar dengan menuntun keledai kesayangannya. Belum cukup jauh keduanya berjalan, terdengar bisikan orang-orang yang tengah melihat mereka.

"Hei, lihat bapak dan anak yang menuntun keledainya itu. Bodoh sekali mereka, masak keledai dituntun? Bukankah mereka bisa menaiki keledai tersebut agar tidak lelah?"

Mendengar cemoohan itu, Nasrudin dan anaknya memutuskan menaiki keledai tersebut. Mereka pun melanjutkan perjalanan naik keledai. Tak lama kemudian, mereka kembali mendengar cemoohan orang-orang di sekitar mereka.

"Benar-benar keterlaluan mereka berdua itu, keledai yang badannya lebih kecil dari kuda dinaiki dua orang berbadan tegap. Kasihan keledai itu. Seharusnya cukup satu orang saja yang menaikinya".

Mendengar hal tersebut, Nasrudin kemudian memutuskan turun dan membiarkan anaknya seorang menaiki keledai itu. Nasrudin berjalan di dekat keledai dan menuntun keledai itu dengan memegangi tali pengikatnya. Sementara anaknya duduk di punggung keledai. Di jalan ada lagi orang-orang yang mencemooh.

"Benar-benar kurang ajar, masak dia enak-enak naik keledai sedangkan bapaknya disuruh jalan menuntun keledai?" demikian kata orang-orang tersebut.

Si anak pun turun dan meminta bapaknya (Nasrudin) untuk naik keledai. Perjalanan pun berlanjut. Ternyata tetap saja ada orang-orang yang mencemooh,

"Hai kawan-kawan, lihatlah bapak yang tidak tahu malu, sementara dia naik keledai anaknya disuruh menuntun keledai."

Mendengarnya, si anak lalu bertanya kepada Nasrudin, "Apa yang harus kita lakukan?"

Seketika, Nasrudin meminta anaknya membantu menggendong keledai tersebut. Perjalanan ke pasar kembali dilanjutkan. Namun sayangnya, cemoohan masih saja ada. Kali ini mereka malah ditertawakan.

"Hahaha, lihatlah bapak dan anak yang bodoh itu, masa keledai digendong. Harusnya kan dinaiki atau dituntun."

Nasrudin lalu berpesan kepada anaknya agar tidak mencukur bulu ekor keledai di hadapan orang lain.
"Beberapa orang akan berkata kamu memotongnya terlalu banyak, sementara yang lain berkata kamu memotongnya terlalu sedikit. Jika kamu ingin menyenangkan semua orang, pada akhirnya keledaimu tidak akan memiliki ekor sama sekali."
.
Apapun yang kita lakukan, akan ada saja yang tidak suka atau tidak setuju. Kita tidak akan mampu menyenangkan semua orang.
.
.
Semoga bermanfaat
Devira
16 Juni 2019

Kamis, 11 April 2019

KONTAK (PENANGKAL UNTUK SI "KATANYA")


"Katanya" - satu kata ajaib yang dapat menciptakan suatu penilaian tertentu terhadap seseorang atau kelompok. Begitu ajaibnya sampai dapat mempengaruhi orang-orang di segala tingkat sosial-ekonomi, usia, ataupun pendidikan. Jaman sekarang hal ini dikenal dengan hoax. Istilah hoax muncul pada abad 18, berasal dari kata hocus yang artinya mengecoh atau menipu. Kata hoax populer berbarengan dengan semakin mendunianya internet. Dan memang berita-berita "katanya" ini biasanya adalah berita tipuan yang bertujuan memberikan efek negatif pada objek berita.

Dampak si "katanya" ini lebih jauh lagi dapat menimbulkan konflik bahkan perang seperti antar suku, agama, dan politik. Hal ini dikarenakan berita-berita "katanya" ini memicu munculnya prasangka (prejudice) pada penerima berita. Definisi klasik prasangka pertama kali diperkenalkan oleh psikolog dari Universitas Harvard, Gordon Allport dalam bukunya The Nature of Prejudice yang terbit tahun 1954. Istilah itu berasal dari kata praejudicium, yakni pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu.

Dalam perkembangannya, teori prasangka mencakup hal yang lebih luas dan kompleks dari sekedar perasaan tidak suka karena pengalaman dangkal. Namun pada kenyataannya, banyak prasangka yang timbul hanya bermodal si "katanya" tanpa disertai proses penelaahan terlebih dahulu (dangkal). Semakin banyak yang bilang, maka berita tersebut semakin dipercaya kebenarannya. Tak penting logikanya, tak penting faktanya. Yang penting, jika orang-orang bilang begitu maka itulah kebenaran. Di tengah banyaknya berita simpang siur dan kesibukan, terkadang banyak orang lebih mempercayai hal instan daripada bersusah susah payah mencari tahu kejadian yang sebenarnya.

Kasus sederhana mengenai prasangka adalah bagaimana seorang objek prasangka dibenci, dikucilkan atau dipersekusi oleh masyarakat. Bahkan bisa jadi rupa wajah si objek prasangka juga belum pernah dilihat, namun gambarannya sudah menyebar kemana-mana. Tentu saja gambaran tersebut merupakan setingan penyebar berita. Fenomena yang lebih kekinian adalah ternyata prasangka juga dapat muncul atau diperkuat dari status atau story di media sosial. Agaknya ada saja oknum-oknum baper yang merasa punya instink cenayang yang dapat menerawang makna di balik tulisan di media sosial. Lalu mulailah mengasosiasikan segala hal yang pada akhirnya hanya memperkuat prasangka.

Lalu bagaimana cara mencegah dan mematahkan prasangka? Tabayyun (periksa dengan teliti). Dan tabayyun paling efektif adalah dengan bertemu langsung dengan objek prasangka. Gordon Allport (1954) mengemukakan suatu teori yang disebut Contact Hypothesis. Teori Kontak menyatakan bahwa interaksi (kontak) langsung dapat memperbaiki hubungan, melalui menurunnya prasangka. Menurut Allport, agar kontak bisa mengurangi prasangka maka harus ada empat kondisi yang terpenuhi yaitu: 1. Ada tujuan bersama antara kedua pihak, 2. Adanya kerjasama, 3. Adanya status yang setara antara kedua pihak, dan 4. Adanya dukungan dari institusi, hukum, dan norma. Namun puluhan tahun selanjutnya, Pettigrew dan Tropp (2006) menemukan bahwa empat kondisi yang dikatakan Allport tidak harus selalu ada. Dengan interaksi langsung sudah cukup untuk mengurangi prasangka.

Teori Kontak mendapatkan perhatian sangat besar dari berbagai disiplin ilmu sosial karena potensinya untuk mengurangi konflik antar kelompok. Meski demikian, tidak selamanya kontak bisa berlangsung efektif. Seringkali kontak membangkitkan sikap negatif yang sudah ada sebelumnya dan menimbulkan kecemasan (Crisp & Turner, 2013). Apalagi orang cenderung lebih senang berinteraksi dengan ingroup daripada dengan outgroup (Mallett dkk., 2016). Kalau sudah begini, menurut saya, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri. Seberapa besar pengaruh berita tersebut terhadap kehidupan kita. Seberapa penting kebenaran berita tersebut bagi kita. Ikhlaskan hati untuk mengakui bahwa sebenarnya kita tidak tahu menahu. Dan jika interaksi langsung dirasa banyak mudharatnya, akan lebih sederhana merespon si "katanya" dengan "kata siapa?"
.
.
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka lakukan tabayyun (periksa dengan teliti), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum karena kebodohanmu, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(Q.S. Al-Hujuraat : 6)
.
.
Semoga bermanfaat
Devira
2019

***

Referensi :

Allport, G. (1954). The Nature of Prejudice. New York : Doubleday Anchor Books.

Crisp, R. J., & Turner, R. N. (2013). Imagined Intergroup Contact: Refinements, Debates, and Clarifications. Dalam Hodson, G., & Hewstone, M. (Ed.). Advances in intergroup contact. New York: Psychology Press.

Mallett, R. K., Akimoto, S., & Oishi, S. (2016). Affect and Understanding During Everyday Cross-Race Experiences. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 22(2), 237–246.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L.R. (2006). A Meta-Analytic Test of Intergroup Contact Theory. Journal of Personality and Social Psychology.