Saya bukan penggemar film Bollywood. Karena dalam ingatan masa kecil saya, film Bollywood identik dengan adegan-adegan tidak masuk akal dan alur cerita yang sangat mudah ditebak. Ya itu lah film Bollywood jaman dulu, sebelum negara api menyerang hahaa. Maksudnya sebelum Shahrukh Khan, Aamir Khan, Rani Mukerji, Kajol Devgan dan teman-temannya menginvasi perfilman di sana. Kini film Bollywood banyak yang bermutu dan sangat menyentuh sisi emosional. Tema paling umum yang diangkat adalah keluarga, hubungan orang tua dan anak, romansa, serta pendidikan.
Ada beberapa film Bollywood bertema pendidikan yang recommended banged. Sebut saja "3 Idoits" yang bercerita tentang kampus terkenal pencetak insinyur terbaik di kota itu dengan rektornya yang sangat strict dan kompetitif sehingga membuat mahasiswanya stres bahkan ada yang bunuh diri. Kisah dimulai ketika seorang jenius menjadi mahasiswa di sana dan mengubah sistem kampus dengan cara yang tidak biasa. Ada lagi film "Taare Zameen Par" yang bercerita tentang siswa disleksia yang mengalami kesulitan belajar sehingga dilabel pemalas, nakal, dan idiot. Namun semua berubah ketika seorang guru unik datang ke sekolahnya dan menemukan bahwa siswa yang dianggap tidak punya harapan tersebut ternyata berbakat di visual art. Berkat didikan dan perhatian sang guru, siswa tersebut mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya dan menjadi berguna.
Ada satu film lagi yang bertema pendidikan, proses belajar mengajar dan interaksi guru-siswa yang unik dan menyentuh. Judulnya "Hichki" (2018). Dalam bahasa Hindi, Hichki artinya cegukan. Berkisah tentang seorang wanita cerdas berpendidikan S2, dan bercita-cita ingin menjadi guru. Namun kekurangannya yang dimilikinya menghambatnya mencapai cita-cita tersebut. Sekolah manapun tempat ia melamar pekerjaan selalu tertarik dengan CVnya yang bagus. Namun sayangnya ia selalu ditolak saat proses wawancara dikarenakan kekurangannya tersebut. Wanita tersebut memiliki Sindrom Tourrete yang membuatnya sering cegukan tanpa kontrol. Cegukan akan semakin intens saat ia gugup atau stres. Pihak sekolah mengatakan bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan komunikasi verbal yang baik dan disukai anak didik. Dengan sindrom yang dimilikinya, tentunya ia akan kesulitan berkomunikasi dan akan menjadi bahan olokan di kelas. Maka, proses belajar mengajar tidak akan efektif.
Lima tahun kemudian, setelah ditolak di sana-sini, wanita tersebut diterima mengajar di sekolah tempat ia bersekolah dulu. Ternyata sekolah tersebut menerimanya karena ada kondisi khusus di kelas dimana wanita tersebut ditempatkan menjadi wali kelas.
Banyak sekali pelajaran moral yang dapat kita ambil dari film ini. Bagaimana diskriminasi terhadap perbedaan kasta dan kemampuan belajar dapat mempengaruhi interaksi di sekolah. Bagaimana mengajarkan etika dan karakter kepada anak didik, dan betapa dua hal itu lebih penting daripada nilai bagus dan sebuah lencana penghargaan. Bagaimana seorang guru cerdas namun memiliki kekurangan yang membuatnya diremehkan dan mendapat didiskriminasi di sana sini, bahkan dari ayah kandungnya sendiri. Dan bagaimana kesabarannya dalam mendidik siswa-siswa yang dilabel Failure dan bermasalah.
Bagian yang paling membuat saya merinding adalah saat seorang siswa mengaku kepada guru kesayangannya bahwa dirinya lah dalang sebuah kejahatan yang terjadi di sekolah itu. Siswa tersebut mengatakannya dengan bangga seolah mengharapkan pujian dari sang guru. Siswa tersebut berkata, "KITA telah berhasil...". Sang Guru tertegun mendengar kata "KITA" yang disebut siswanya karena nyatanya sang guru tidak terlibat apapun dalam kejahatan tersebut. Saat itu ia pun mengerti bahwa sadar atau tidak, dia lah yang telah mengajarkan kejahatan kepada anak didiknya. Dia telah menanamkan pemahaman yang keliru sehingga siswanya merasa bangga setelah melakukan hal yang salah.
Saya tidak ingin bercerita panjang tentang film ini karena akan mengganggu proses emosional Anda saat menonton nanti. Jangan lupa siapkan tissue yang banyak.
Tulisan ini saya tutup dengan quote terkenal dari Theodore Roosevelt : "People don't care how much you know, until they know how much you care".
Semoga bermanfaat.
Devira Sari, psikolog.
2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar