Selasa, 08 Januari 2019

GRADUATION #5 : Untuk Ibu


Dear, ibu.

Yang jauh di mata dan dekat di hati.

Ibu pembimbing. Sesama anggota bulan Desember. Bisa dikatakan, ibu adalah orang pertama yang percaya bahwa saya mampu dan punya potensi untuk menjadi apapun yang saya inginkan. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum saya benar-benar paham betapa care dan sabarnya ibu. Terkadang suka ketawa sendiri mengingat bagaimana tingkah saya dahulu waktu masih dalam bimbingan ibu. Memang tak banyak guru yang mampu memahami pola pikir dan gaya belajar saya, bahkan hingga kini. Betapa Tuhan tak pernah keliru menentukan pertemuan dan waktu. Berkat ibu, sekolah bisa begitu menyenangkan sehingga kelulusan pun menjadi momen tak terlupakan. 10 tahun berlalu. Banyak hal yang berubah, banyak juga yang tidak. Semoga yang berubah maupun tidak menjadikan diri lebih baik.

Terima kasih untuk tidak mudah menyerah terhadap saya. Terima kasih telah mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah.

Devira
Januari 2019


Selasa, 25 Desember 2018

Graduation #4


Pada suatu siang yang cerah, beberapa tahun yang lalu. Hari dimana kita untuk pertama kalinya memakai toga hitam ungu itu. Setelah struggle dengan skripsi, kita claim diri kita sebagai "Orang Klinis".

GRADUATION

Suka cita bahagia menjalani beberapa prosesi. Setelahnya, kita langsung memasuki kehidupan nyata yang sangat jauh berbeda dengan obrolan-obrolan seru kita yang penuh tawa. Ingatkah kamu bagaimana mimpi-mimpi kita diombang-ambing arus dan aral? Kita pun mulai mempertanyakan diri kita, mimpi-mimpi kita, dan apa saja yang telah kita usahakan. Hingga akhirnya di satu titik kita pun berpisah, menjalani hidup kita masing-masing yang berbeda dari keinginan kita. Kemudian aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah profesi Klinis di Bandung. Tak lama setelahnya kamu melanjutkan sekolah Bisnis di Belanda. Melukis memori-memori baru, pengalaman hidup baru yang akan kita ceritakan di masa depan. Kini kita sama-sama telah menyelesaikan satu tugas kita. Begitu banyak hal yang berbeda dari rencana, namun alhamdulillah semua terjalani dan syarat akan makna.
.
That's life, Gal. Like a box of chocolate, we never know what we're gonna get. Just try to be thankful for what we have and enjoy every moment. Because life will never be the same each time, so do we. Yes, everything is changing. Only maturity heals, you said. When i look at this photo, i find ourselves there in the past, we were so young and free. And I am so blessed.
.
Then we meet again and look back a few years ago. We laugh at the memories about the tears we shed, the stupidness we made, the pain that we thought would never be erased, and the joy we wished last forever. Yes, we did it. It's all done well. We are growing and get mature.
.
Then, the question is "what next?" I wonder what will we become in next ten years or twenty years (so on)? What kind of dreams are we going to tell? What kind of unpredictable life we will overcome? How much obstacles we will conquer?
.
We'll see.
.
Now, let's make lots of new memories. So when we meet again we can continue to laugh together. Hope we never forget what happiness is ☺
.
With canmaw Riris Hutajulu ^_^



Rabu, 19 Desember 2018

GRADUATION #3 : THE LAST DAY


The Last Day



Saya punya kebiasaan. Setiap datang ke suatu tempat baru maka saya akan jalan-jalan mengelilingi tempat tersebut untuk menemukan spot-spot terbaik dan menarik (versi saya). Begitu pula saat hendak meninggalkan tempat tersebut. Biasanya saya akan kembali mengelilingi tempat tersebut untuk sekedar mengenang setiap momen selama di sana, serta memetakan seluruh lokasi, aroma dan suasananya dalam ingatan saya. Akan ada masa dimana saya akan mengenangnya kembali.

2015 adalah pertama kali saya datang ke kampus berbukit ini. Dari seluruh kampus tempat yang paling saya sukai adalah halaman rektorat. Kenapa? Karena di kampus ini, di sini lah paling banyak saya temui bunga-bunga cantik. Berhubung saya punya hobi hunting bunga-bunga dan mencari cerita menarik tentangnya. Spot favorit saya adalah halaman sebelah kanan parkiran di bawah pohon-pohon rindang dan di sepanjang kanopi yang berhiaskan beragam vine flower. Dulu, hampir setiap hari minggu subuh menjelang pagi saya jalan keliling kampus saya akan mampir ke sini. Kadang di hari biasa saya juga ke sana untuk menulis atau menggambar atau sekedar menikmati suasana saja atau menenangkan pikiran. Kalau sedang hujan, saya duduk di tangga samping sambil menerka-nerka bagaimana proses mengukir tanaman menjadi lambang kampus di situ (sekarang sudah tidak ada lagi). Kemudian jadi lebih sering ke sini seiring banyaknya urusan dengan Beliau-Yang-Very-Very-Busy. Ntah lah sepertinya bunga-bunga jauh lebih asri di tahun awal daripada tahun terakhir. Mungkin cuma perasaan saya saja.

Hari terakhir. Setelah segala urusan selesai, saya berkeliling seperti kebiasaan saya. Memastikan tidak ada yang luput dari perhatian dan semua terekam di ingatan saya. Lalu saya sempatkan untuk mengambil foto di lobi depan. Mungkin suatu saat nanti saya akan datang lagi, mungkin juga tidak. Sungguh saya tidak tahu menahu apa yang akan terjadi masa depan. Namun jika langit telah menuliskan kisahnya, semoga saat itu ada/tiadanya cirrus maupun cumulus tak lagi menjadi persoalan.

***

Devira
Catatan Desember 2018

Kamis, 13 Desember 2018

GRADUATION #2 : The Gift


Dear, big brother

my Virgo,
my Alpha,
my first love ❤
Orang yang paling tahan mendengarkan ocehan receh dan irrational belief-ku. Yang katanya (info dari orang lain) selalu pusing memikirkan adekmu satu-satunya ini - si manja, keras kepala, payah diatur, banyak maunya, gak maunya juga banyak. Kulihat dahimu yang semakin berkerut, pastinya sekarang semakin banyak yang dipikirkan ya.

Kamu selalu bilang, dalam hidup badai pasti akan datang dan ia pun pasti akan berlalu. Karenanya kamu selalu menjaga agar aku tak perlu merasakan terpaannya, sembari mengingatkanku untuk tetap bersabar dan bersyukur. Tapi aku yakin setiap manusia dibekali Tuhan kemampuan untuk menghadapi masalah. Semua bisa dipelajari. Kenapa kita tidak belajar menari dan tertawa saja di tengah badai? Toh badai tetap akan datang juga. Kita cari cara untuk tetap dapat menikmatinya. Kita, ya kita. Bersama-sama. Jadi tak perlulah semua kamu yang pikirkan sendiri.  Menurutku begitu (Devi itu selalu punya argumen dan kata "iya" nya mahal kali, ya kan 😁).

Aku memang tidak paham kerasnya hidup. Aku juga tak pernah tahu seberapa banyak dan dalam luka di hatimu. Kamu tak pernah berkeluh kesah padaku. Responmu hanya sekitaran "iya", "tidak" dan diam. Katamu, hal pertama yang harus dipertanggungjawabkan laki-laki adalah kata-katanya. Maka diammu adalah tanda agar aku menunggu. Dan laki-laki sejati tak akan membuatku kecewa, just like you do.

Aku masih ingat ekspresi wajahmu saat aku bilang mau merantau. Setiap aku menangis kamu pasti bilang, "udah, pulang aja." But i am pretty stubborn. I flew to the moon then fell to the hell, and see, I always come back. Dan janjipun terpenuhi, walau sedikit keluar dari rencana awal.

Tesis ini adalah salah satu karya terbaikku, khusus aku dedikasikan untukmu. Sekarang aku siap untuk misi dan perjalanan selanjutnya. Jangan khawatir, aku selalu ingat semua yang pernah kamu ajarkan padaku ✌
.
.
PS : You'll never walk alone. So do I. 👣


Adindamu,
Devira
Desember 2018

Sabtu, 17 November 2018

PUISI : Eccedentesiast


Eccedentesiast


Duhai langitku,
Apa kabarmu?
Lama ku tak lagi merasakanmu
Apa kau masih di sana?
Sudah berapa lama kita tak lagi bercengkrama.
Ataukah aku yang menjauh?
Hah, kemanakah aku hendak pergi, jika hadirmu selalu ada di setiap langkahku?

Akhir-akhir ini aku pun tak begitu suka keteduhan gerimismu apalagi hujanmu.
Ntah lah kenapa.
Mungkin karna tak ada lagi rindu yang dapat kubisikan padamu
Tak ada lagi amarah yang ingin kuteriakkan padamu.

Apa karna itu kau terus menangis?
Merindukanku?
Atau kau ingin meluruhkan habis semua rasa itu sampai tak bersisa?
Aku manusia biasa,
Aku tak ingin seperti itu.

Sungguh aku tak lagi memahamimu.
Namun kau sudah terlalu dalam masuk ke hatiku.
Tak mungkin ada cara mengeluarkanmu dari sana.
Aku yakin kau tau ini pasti akan terjadi.
Jadi kuterima saja kau sebagaimana adanya.
Dan aku tak butuh penjelasan apa-apa.



Devira
Nov 2018

Senin, 09 Juli 2018

IF IT DOESN'T BREAK YOUR HEART, THEN IT ISN'T LOVE

Konon katanya, resiko dari cinta adalah kehilangan dan harga dari kehilangan adalah kesedihan mendalam. Sepertinya memang begitu. Berdasarkan Holmes and Rahe Social Readjustment Rating Scale (dalam Nolen-Hoeksema, 2009), kehilangan pasangan hidup (terutama karena kematian) berada pada posisi tertinggi dari pengalaman paling membuat stres dalam kehidupan seseorang. Well, if it doesn't break your heart, then it isn't love.
.
.
Saya ingat, tahun lalu, saat saya hendak pulang ke Jakarta. Di stasiun Bandung saya menunggu jadwal keberangkatan kereta api di ruang tunggu, setelah mencetak tiket. Saat itu masih ada 30 menit lagi untuk keberangkatan.
Di bangku seberang kanan saya ada seorang bapak paruh baya yang duduk dalam diam. Ekspresi wajahnya tenang sekali, namun raut mukanya terlihat letih (dan sedih). Wajahnya yang bersih terlihat pucat. Matanya yang sayu terlihat menghitam dan berkantung tebal. Di tangan kanannya ia memegang tasbih, seperti berzikir di dalam hati (atau sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri) karena bibirnya sama sekali tidak bergerak. Posisi duduknya tidak menyandar. Matanya menatap ke bawah sesekali berkedip. Beberapa kali ia menghela napas dalam.
Ada seorang anak perempuan sekitar 6 atau 7 tahun berlari menabrak kaki saya. Hampir saja jatuh terjerembab kalau saya tidak menangkapnya. Kemudian si bapak memanggil namanya dan memintanya jangan lari-lari. Anaknya si bapak, pikir saya.
Lalu ada perempuan paruh baya yang duduk di sebelah kiri saya memanggil nama anak kecil tersebut dan menyuruhnya duduk di bangku kosong sebelahnya. Perempuan tersebut pastilah ibunya, pikir saya. Perempuan tersebut tersenyum ramah pada saya. Kemudian kami mengobrol dan saya mengetahui bahwa ia adalah adik si bapak yang duduk di bangku seberang kanan saya. Dan anak perempuan tersebut adalah anaknya. Berarti si bapak bukan ayah si anak kecil melainkan pamannya. Saat saya menoleh ke arah kanan saya, si bapak ternyata sudah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju sebuah market di sana. Si ibu bercerita bahwa baru-baru ini istri si bapak telah meninggal dunia setelah hampir 10 tahun hidup dengan kanker. Mereka sudah berikhtiar kemana-mana dan si bapak senantiasa berusaha agar istrinya tetap sehat dan bahagia. Mereka baru saja kembali dari pemakaman si istri di Padalarang. Saat ini ia mengantarkan si bapak untuk kembali ke rumah dan kantornya di Jakarta. Seorang anak si bapak yang sudah SMA sudah lebih dahulu pulang ke Jakarta karena ada ujian.
Beberapa saat kami mengobrol, si bapak datang menghampiri kami sambil menyodorkan dua teh kotak kepada kami. Si bapak pun kembali ke tempat duduknya setelah tersenyum tanpa kata. Ia kembali duduk dengan posisi yang sama, kegiatan yang sama, dan ekspresi yang sama. Perempuan paruh baya itu juga memperhatikannya dan berkata pada saya bahwa keadaan si bapak yang seperti itu lah membuatnya memaksa untuk ikut ke Jakarta. Reaksi si bapak yang tenang dan diam itu membuatnya khawatir karena menurutnya akan lebih baik jika si bapak menangis atau marah-marah.
Saya naik kereta Argoparahyangan itu menuju Jakarta. Ternyata saya naik kereta yang sama di gerbong yang sama dengan mereka. Awalnya saya tidak menyadarinya karena mereka naik kereta lebih dulu dari saya. Sembari berjalan ke depan ke arah tempat duduk saya, saya melihat si bapak yang duduk melihat keluar jendela dalam diam dengan ekspresi yang sama dengan saat di ruang tunggu stasiun.
"If you ever loved somebody put your hands up.
Now they're gone and you wishin’ that you could give them everything." (Just a Dream)
Setiap saya mendengar lagu ini saya jadi teringat dengan si bapak. Saya tidak tahu dengan pasti apa yang ada dalam pikiran si bapak. Mengenang, menyesali, menyalahkan diri sendiri, pasrah atau gabungan dari semuanya. Mungkin kurang pas, namun saya menghayati kondisi si bapak kurang lebih seperti lagu ini. 
.
.
.
Referensi : Nolen-Hoeksema, S., Fredrickson, B. L., Loftus, G. R., & Wagenaar, W. A. (2009). Atkinson & Hilgard's Introduction to Psychology (15th ed.). Andover, Hampshire: Cengage Learning EMEA





Kamis, 10 Mei 2018

COUNTERTRANSFERENCE


Ada yang bertanya, kenapa beberapa waktu belakangan saya menjadi lebih sensitif dan lebih mellow. Saya pun sadar, itu memang benar.

Saat ini saya sedang menyelesaikan penelitian intervensi terhadap wanita penderita kanker payudara. Oleh karenanya, saya banyak membaca buku dan menonton film bertemakan terminal illness guna mendapatkan penghayatan. Apalagi berhadapan langsung dengan pasien terminal illness di rumah sakit, tentu bukan hal yang mudah. Momen paling berat yang saya rasakan adalah saat salah seorang partisipan penelitian saya meninggal dunia di tengah proses penelitian. Hal tersebut memberikan pengaruh emosional dalam diri saya. Karena mendapatkan kabar duka cita, karena sehari sebelumnya kondisi pasien terlihat lebih sehat dari hari-hari sebelumnya, karena harus mencari partisipan baru dan mengulang proses.

Saat itu yang saya rasakan adalah kesedihan mendalam, entah kenapa. Rasanya saya tidak mungkin mampu melanjutkan penelitian ini. Besoknya, gantian saya yang menjadi pasien. Dokter mengatakan saya mengalami stres fisik dan mental sehingga imun tubuh saya drop. Akibatnya, timbul reaksi alergi dan infeksi di beberapa bagian tubuh saya.

Ya, saya stres. Beberapa hari sebelumnya saya baru saja menyelesaikan pelaksanaan intervensi penelitian medis di Dinas Sosial Kota Bandung. Beberapa hari setelahnya saya akan menjalani ujian akhir keprofesian. Di sela-selanya ada 9 ringkasan laporan kasus, konsinyiran, amdat, dan lainnya. Dokter menyarankan saya untuk bedrest beberapa hari. Kemudian saya diberikan resep beberapa obat yang saya yakin mengandung obat tidur (hahhah). Karena setiap sehabis minum obat pasti tidur lamaaa.

Selama beberapa hari beristirahat, saya menyadari bahwa ada hal lain yang membuat keadaan ini menjadi sangat emosional. Saya terasosiasi dengan kejadian saat saya masih kecil, ketika ibu saya meninggal dunia di rumah sakit setelah sakit berkepanjangan. Dalam ilmu psikologi ini disebut 
countertransference, yaitu totalitas reaksi afektif dan perilaku baik sadar maupun tidak sadar yang dialami praktisi klinis kepada klien, termasuk reka ulang dan persepsi transferential. Countertransference mengacu pada pengalaman praktisi klinis yang berasosiasi dengan apa yang terjadi dalam hubungan terapeutik (Figley, 2012). Peristiwa yang terjadi pada partisipan penelitian saya memiliki kemiripan dengan peristiwa yang terjadi pada ibu saya di masa lalu. Hal tersebut memicu ingatan saya, bukan hanya tentang kejadiannya, tapi juga perasaan yang saya rasakan 20 tahun lalu. Fenomena ini sebenarnya wajar dan dapat terjadi pada siapa saja. Hanya saja karena saya sedang menangani kasus, tentu ada hal-hal yang perlu dibenahi karena dapat mempengaruhi perlakuan saya terhadap pasien saya. Resiko profesi.

H-1 ujian akhir keprofesian, obat saya habis. Kondisi saya sudah lebih stabil. Seharian saya memilih bersantai setelah menentukan kasus yang akan dipresentasikan. Hari H, ujian berjalan lancar dan menyenangkan. Revisi beres satu malam. Beberapa hari kemudian, saya menemukan pasien yang dapat dijadikan partisipan penelitian baru. Rasanya semua kembali normal. Mmm..tapi sepertinya sekarang kerjanya pelan-pelan saja.

Daaan seperti biasa, reaksi orang-orang yang mengenal saya, "kebiasaan kali gak cerita!" Ehhehe..Iya, kebiasaan. Jadi sekarang saya sudah cerita yaa... 
*jangandimarahin*




Sudah jadi psikolog pun tetap bisa kena isu mental health. Da saya mah hanya manusia biasa.
.
.
.
Referensi : Figley, Charles R. (2012). Encyclopedia of trauma. SAGE Publications, Inc. United States of America