Kamis, 11 April 2019

KONTAK (PENANGKAL UNTUK SI "KATANYA")


"Katanya" - satu kata ajaib yang dapat menciptakan suatu penilaian tertentu terhadap seseorang atau kelompok. Begitu ajaibnya sampai dapat mempengaruhi orang-orang di segala tingkat sosial-ekonomi, usia, ataupun pendidikan. Jaman sekarang hal ini dikenal dengan hoax. Istilah hoax muncul pada abad 18, berasal dari kata hocus yang artinya mengecoh atau menipu. Kata hoax populer berbarengan dengan semakin mendunianya internet. Dan memang berita-berita "katanya" ini biasanya adalah berita tipuan yang bertujuan memberikan efek negatif pada objek berita.

Dampak si "katanya" ini lebih jauh lagi dapat menimbulkan konflik bahkan perang seperti antar suku, agama, dan politik. Hal ini dikarenakan berita-berita "katanya" ini memicu munculnya prasangka (prejudice) pada penerima berita. Definisi klasik prasangka pertama kali diperkenalkan oleh psikolog dari Universitas Harvard, Gordon Allport dalam bukunya The Nature of Prejudice yang terbit tahun 1954. Istilah itu berasal dari kata praejudicium, yakni pernyataan atau kesimpulan tentang sesuatu berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau sekelompok orang tertentu.

Dalam perkembangannya, teori prasangka mencakup hal yang lebih luas dan kompleks dari sekedar perasaan tidak suka karena pengalaman dangkal. Namun pada kenyataannya, banyak prasangka yang timbul hanya bermodal si "katanya" tanpa disertai proses penelaahan terlebih dahulu (dangkal). Semakin banyak yang bilang, maka berita tersebut semakin dipercaya kebenarannya. Tak penting logikanya, tak penting faktanya. Yang penting, jika orang-orang bilang begitu maka itulah kebenaran. Di tengah banyaknya berita simpang siur dan kesibukan, terkadang banyak orang lebih mempercayai hal instan daripada bersusah susah payah mencari tahu kejadian yang sebenarnya.

Kasus sederhana mengenai prasangka adalah bagaimana seorang objek prasangka dibenci, dikucilkan atau dipersekusi oleh masyarakat. Bahkan bisa jadi rupa wajah si objek prasangka juga belum pernah dilihat, namun gambarannya sudah menyebar kemana-mana. Tentu saja gambaran tersebut merupakan setingan penyebar berita. Fenomena yang lebih kekinian adalah ternyata prasangka juga dapat muncul atau diperkuat dari status atau story di media sosial. Agaknya ada saja oknum-oknum baper yang merasa punya instink cenayang yang dapat menerawang makna di balik tulisan di media sosial. Lalu mulailah mengasosiasikan segala hal yang pada akhirnya hanya memperkuat prasangka.

Lalu bagaimana cara mencegah dan mematahkan prasangka? Tabayyun (periksa dengan teliti). Dan tabayyun paling efektif adalah dengan bertemu langsung dengan objek prasangka. Gordon Allport (1954) mengemukakan suatu teori yang disebut Contact Hypothesis. Teori Kontak menyatakan bahwa interaksi (kontak) langsung dapat memperbaiki hubungan, melalui menurunnya prasangka. Menurut Allport, agar kontak bisa mengurangi prasangka maka harus ada empat kondisi yang terpenuhi yaitu: 1. Ada tujuan bersama antara kedua pihak, 2. Adanya kerjasama, 3. Adanya status yang setara antara kedua pihak, dan 4. Adanya dukungan dari institusi, hukum, dan norma. Namun puluhan tahun selanjutnya, Pettigrew dan Tropp (2006) menemukan bahwa empat kondisi yang dikatakan Allport tidak harus selalu ada. Dengan interaksi langsung sudah cukup untuk mengurangi prasangka.

Teori Kontak mendapatkan perhatian sangat besar dari berbagai disiplin ilmu sosial karena potensinya untuk mengurangi konflik antar kelompok. Meski demikian, tidak selamanya kontak bisa berlangsung efektif. Seringkali kontak membangkitkan sikap negatif yang sudah ada sebelumnya dan menimbulkan kecemasan (Crisp & Turner, 2013). Apalagi orang cenderung lebih senang berinteraksi dengan ingroup daripada dengan outgroup (Mallett dkk., 2016). Kalau sudah begini, menurut saya, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri. Seberapa besar pengaruh berita tersebut terhadap kehidupan kita. Seberapa penting kebenaran berita tersebut bagi kita. Ikhlaskan hati untuk mengakui bahwa sebenarnya kita tidak tahu menahu. Dan jika interaksi langsung dirasa banyak mudharatnya, akan lebih sederhana merespon si "katanya" dengan "kata siapa?"
.
.
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka lakukan tabayyun (periksa dengan teliti), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum karena kebodohanmu, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(Q.S. Al-Hujuraat : 6)
.
.
Semoga bermanfaat
Devira
2019

***

Referensi :

Allport, G. (1954). The Nature of Prejudice. New York : Doubleday Anchor Books.

Crisp, R. J., & Turner, R. N. (2013). Imagined Intergroup Contact: Refinements, Debates, and Clarifications. Dalam Hodson, G., & Hewstone, M. (Ed.). Advances in intergroup contact. New York: Psychology Press.

Mallett, R. K., Akimoto, S., & Oishi, S. (2016). Affect and Understanding During Everyday Cross-Race Experiences. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 22(2), 237–246.

Pettigrew, T. F., & Tropp, L.R. (2006). A Meta-Analytic Test of Intergroup Contact Theory. Journal of Personality and Social Psychology.

Selasa, 19 Maret 2019

FILOSOFI BAMBU

Untukmu yang ditakdirkan tumbuh menjulang


Tahukah Anda, bambu merupakan salah satu jenis rumput-rumputan. Namun ini bukan sembarang rumput, ini rumput yang istimewa. Batangnya tinggi dan kokoh, kuat namun fleksibel, seluruh bagiannya bermanfaat, bahkan suara dari gesekan daunnya yang tertiup angin pun memiliki keindahannya tersendiri.

Mengapa bisa begitu?

Selama 5 tahun pertama bambu tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti. Walaupun setiap hari disiram dan dipupuk, tumbuhnya hanya beberapa centimeter saja. Setelah 5 tahun, barulah bambu menunjukkan pertumbuhan yang sangat dahsyat hingga menjulang.

Ternyata selama 5 tahun itu, bambu mengalami pertumbuhan pada akar, bukan pada batang. Pohon bambu sedang mempersiapkan pondasi yang sangat kuat, agar ia bisa menopang ketinggiannya yang berpuluh-puluh meter dikemudian hari. Setelah akarnya kokoh, barulah tunasnya berkembang. Bambu tumbuh menjadi kuat namun sangat fleksibel. Semakin tinggi ia tumbuh, semakin kencang pula anginnya. Ia memang terlihat terombang ambing diterpa angin, namun ia tidak pernah tumbang. Malah ia mengeluarkan suara yang merdu.

Dalam kehidupan nyata, jika kita mengalami suatu hambatan dan kegagalan, bukan berarti kita tidak mengalami perkembangan, melainkan justru kita sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa di dalam diri kita. Ketika kita lelah dan hampir menyerah dalam menghadapi kerasnya kehidupan, jangan pernah berhenti dan putus asa.

Hidup memang begitu. Semakin tinggi posisi, semakin bertambah status, semakin banyak usia, cobaannya akan semakin banyak dan berat. Namun jika sudah mempunyai pondasi yang kuat, niscaya kita akan mampu bertahan.

Jangan menyerah

***

Semoga bermanfaat
Devira
2019

Selasa, 05 Maret 2019

HYDRANGEA : Thank you for understanding me

Hydrangea macrophilla
Hortensia
Gratitute for understanding flower

Bunga ini pertama kali ditemukan di Jepang. Nama hydrangea berasal dari bahasa Yunani :  hydros yang berarti air, dan angos yang berarti toples/wadah. Maka hydrangea berarti wadah air. Nama ini sesuai karena tanaman ini memang membutuhkan banyak air. Namun, terlalu banyak air dapat membuat layu, daun menguning, daun rontok, dan pertumbuhan terhambat.

Menurut legenda Jepang, dahulu kala seorang kaisar mencintai seorang wanita. Namun kesibukannya mengurusi negara membuatnya tidak punya waktu untuk wanita pujaannya. Meskipun begitu, wanita tersebut tidak pernah mengeluh ataupun marah. Maka untuk menebusnya, kaisar memberikan bunga Hydrangea untuk menunjukkan seberapa besar cintanya. Sebagai permintaan maaf dan rasa terima kasih atas pengertian si wanita terhadap kondisi kaisar.

Sejak saat itu, Hydrangea sering dikaitkan dengan emosi yang tulus, permintaan maaf, dan rasa terima kasih karena telah dimengerti.
*
"Thank you for understanding me"
*
Devira
2019

BRUGMANSIA (Angel's Trumpett)

BRUGMANSIA / ANGEL’S TRUMPETT / SANGKAKALA MALAIKAT
Boleh dipandang, tidak boleh disentuh



Jangan terkecoh dengan penampilan dan namanya yang indah. Tumbuhan ini ternyata mengandung zat narkotik yang lebih berbahaya dari Kokain. Seluruh bagian dari tanaman ini mengandung alkaloid tropane terutama Scopolamine / Hyoscine. Pada tahun 2013, dari sebuah film dokumenter berjudul 'The World’s Scariest Drug’ diketahui bahwa Scopolamine dapat mengubah siapa yang mengkonsumsinya menjadi zombie.

Sama seperti beberapa narkotika lain, scopolamine juga bermanfaat dalam dunia medis yaitu sebagai penghilang rasa sakit, meredakan mual dan muntah, sedatif (penenang), serta mengobati mabuk kendaraan. Scopolamine biasanya digunakan sebelum dan setelah operasi. Namun terdapat efek samping yang fatal terutama jika digunakan secara berlebihan, seperti halusinasi yang luar biasa, terganggunya sistem pernafasan, kelumpuhan hingga kematian.

Di dunia para pengedar narkotika, Scopolamine dikenal dengan sebutan 'The Devil's Breath' atau nafas setan yang menghasilkan efek halusinasi dan hilang ingatan. Halusinasi yang dihasilkan scopolamine berbeda dengan halusinasi yang dihasilkan narkoba lain seperti ganja dan kokain yang membuat pengguna merasa bahagia. Jika seseorang menggunakan scopolamine, maka ia mengalami halusinasi yang mengerikan. Orang tersebut bisa berubah menjadi seperti zombie, tidak bisa mengendalikan diri sendiri namun mudah dikendalikan orang lain. Ini sangat berbahaya sekali karena mereka dapat mengalami kecelakaan atau menjadi korban kejahatan.

Jika Anda pernah membaca/menonton serial Harry Potter, tentunya Anda mengenal kutukan Imperius, yang merupakan salah satu dari tiga kutukan tak termaafkan. Dengan kutukan Imperius, korban akan mau melakukan apa saja yang diperintahkan dan tidak mengingat apapun setelahnya. Nah, kurang lebih seperti itulah efek dari zat yang terkandung dalam tanaman ini.

Hal yang paling mengerikan dari zat ini adalah metode pengaplikasiannya yang sangat sederhana. Cukup dengan meniupkan Scopolamine di hadapan orang yang sedang lewat di jalan, dalam hitungan menit orang itu akan berada dalam pengaruh zat tersebut. Kemudian Anda bisa membimbing mereka kemanapun Anda mau, mereka seperti anak kecil.

Ada juga jenis tanaman yang mirip dengan Brugmansia dan masih dalam family Solanaceae (nightshade). Namanya Datura, sp (Devil’s trumpett/Sangsakala Iblis). Kedua tanaman ini memiliki bunga berbentuk terompet dengan warna-warna pastel yang indah. Meskipun demikian, keduanya dapat dengan mudah bisa dibedakan. Brugmansia (Sangsakala malaikat) memiliki bunga yang menggantung atau menjuntai ke bawah, diibaratkan malaikat yang turun dari langit. Brugmansia berbatang kayu dan tumbuh tinggi seperti pohon. Sedangkan Datura (Sangsakala Iblis) memiliki bunga yang tegak menghadap ke atas, seperti iblis yang muncul dari neraka bawah tanah. Biasanya seperti semak yang pendek. Di Indonesia, kedua tanaman ini dikenal dengan nama Kecubung, dan keduanya mengandung Scopolamine/ Hyoscine. Jika menemukan kedua tanaman ini, jangan sekali-kali disentuh atau dicium. Dan sebaiknya tidak mendekati tanaman ini apalagi tidur di bawah pohonnya. Meskipun pemandangannya indah, namun jika bunga Brugmansia gugur dan jatuh mengenai wajah kita, maka zat Scopolamine akan langsung bereaksi.

Kemudian ada satu lagi tanaman yang juga masuk family Solanaceae (nightshade) dan mengandung Scopolamine seperti Brugmansia dan Datura, yaitu Mandrake (Mandragora). Lagi-lagi para penggemar Harry Potter pasti familiar dengan tanaman ini. Dalam film tersebut Mandrake digambarkan sebagai tanaman yang memiliki akar humanoid (seperti manusia) yang akan menjerit jika dicabut dari tanah dan membuat orang pingsan. Namun Mandrake juga digunakan untuk memulihkan orang yang membatu karena ular Basilisk. Agaknya pencipta Harry Potter memang mengetahui latar belakang tanaman ini. Mandrake memang memiliki akar humanoid sehingga sering dipakai dalam ritual sihir. Dalam satu takhayul disebutkan bahwa akar mandrake akan menjerit ketika dicabut dari tanah, membunuh siapa saja yang mendengarnya. Orang-orang yang mencabut akar ini akan dikutuk ke neraka. Serupa dengan Brugmansia dan Datura, tanaman Mandrake juga dapat memberikan efek negatif bahkan kematian, namun juga dapat digunakan untuk keperluan medis.
.
Semoga bermanfaat
Devira
2019

Jumat, 25 Januari 2019

AMARYLLIS (a love story)

AMARYLLIS
(a love story)


Konon katanya, nama bunga Amaryllis diambil dari sebuah legenda Yunani Kuno. Alkisah, peri Amaryllis jatuh cinta kepada seorang gembala bernama Alteo.  Ternyata cinta Amaryllis bertepuk sebelah tangan.

Wajah Alteo yang setampan Apollo dan tubuhnya yang sekuat Hercules membuat semua perempuan dan peri jatuh hati padanya. Sayangnya, Alteo hanya tertarik pada pekerjaannya dan keindahan bunga-bunga yang bermekaran.

Peri Amaryllis yang berharap bisa memenangkan hati Alteo meminta nasehat orakel (peramal) di Delphi (kota yang terletak di lereng Gunung Parnassus, di bawah mata air "Castalian Spring". Bangsa Yunani menyebutnya sebagai pusat dari tata surya). Orakel memberi petunjuk untuk mengetuk pintu rumah Alteo setiap hari selama 30 hari. Ia juga harus mengenakan gaun berwarna putih dan menusuk jantungnya dengan panah emas setiap kali ia datang.

Amaryllis pun menuruti petunjuk dari orakel. Selama 29 hari Alteo tidak peduli dengan kedatangan Amaryllis, sampai hari ke 30 Alteo pun membukakan pintunya. Betapa terkejutnya pemuda tersebut menyaksikan bunga-bunga cantik berwarna merah yang belum pernah ia lihat sebelumnya bermekaran di sepanjang jalan. Ternyata bunga tersebut berasal dari tetesan darah sang peri selama 29 hari, dimana gaun putihnya sudah memerah bersimbah darah. Alteo terpana melihat pemandangan di depannya sehingga ia pun jatuh cinta pada keteguhan dan keindahan Amaryllis. Seketika itu pula jantung peri Amarylis yang tertusuk panah emas sembuh kembali.

***

Bagi orang-orang Yunani, Amaryllis (αμαρυλλις) memiliki arti kemegahan atau berkilau. Bunga Amaryllis merupakan representasi kekuatan, kepercayaan diri, keteguhan hati dan kecantikan seorang wanita. Oleh karena mahkotanya yang besar dan tumbuh tegak menjulang tinggi di antara bunga-bunga lainnya, Amaryllis juga dianggap mengisyaratkan suatu keangkuhan. Namun di jaman itu, sebutan angkuh untuk seorang wanita mengacu sebagai pujian untuk wanita cantik.

*

Devira
2018
Ditulis sembari menunggu.



Rabu, 23 Januari 2019

Pelajaran Catur



PELAJARAN CATUR

Seorang dosen sedang mengajarkan tiga orang mahasiswanya bermain catur. Di akhir pelajaran, dosen bertanya pada ketiga mahasiswa tersebut bidak mana yang paling disukai dan paling merepresentasikan diri mereka. Dimulai dari mahasiswa yang duduk paling kanan.

Mahasiswa 1 dengan malu-malu menjawab, "saya suka pion." Dua temannya tertawa mencemooh mendengar jawabannya, sementara dosen mengangguk-angguk. Wajah mahasiswa 1 memerah tapi ia tidak mengubah jawabannya.

Kemudian dosen menunjuk mahasiswa berikutnya. "Ratu donk! Hahaa." jawab mahasiswa 2 dengan percaya diri.

Mahasiswa 3 terlihat tak mau kalah langsung menjawab dengan lantang, "ya Raja lah. Gimana sih kalian?!"

Dosen mendengarkan jawaban ketiga mahasiswanya sambil tersenyum dan mengangguk-angguk. Lalu ia bertanya lagi, apa alasan pilihan jawaban mereka.

"P..pion itu memang kecil t..tapi dia tidak pernah mundur," jawab mahasiswa 1 sedikit terbata-bata. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "kalau dia mampu bertahan dan berhasil mencapai ujung dia bisa jadi apa saja yang dia mau." Mahasiswa 1 menatap sinis ke kedua temannya yang masih saja tertawa.

Setelah mengapresiasi jawaban mahasiswa 1, dosen beralih ke mahasiswa 2. "Ratu bisa bergerak kemana saja. Ratu juga yang paling dapat diandalkan untuk menjaga permainan tetap berlangsung. Makanya pion pun kepingin jadi Ratu. Hahaa. Bisa dikatakan bahwa Ratu itu lebih hebat dari Raja," jawab mahasiswa 2. Kepercayaan dirinya terpancar hingga memenuhi seluruh ruangan.

Mendengar jawaban mahasiswa 2, mahasiswa 3 langsung menyambar dengan lantang, "Kata siapa Ratu lebih hebat dari Raja?! Jangan konyol, ini catur. Kalau Raja mati, game over! Pion,” jarinya menunjuk ke mahasiswa 1, “bidak yang paling tidak punya hak. Maju terus sampai dimakan lawan. Siapa yang mau mati-matian untuk mempertahankan satu pion? Gak ada. You are just a sacrifice!” Ia sampai berdiri dari tempat duduknya saat berbicara. “Ratu,” ia menunjuk mahasiswa 2, “kamu diberikan kemampuan lebih untuk apa? Untuk melindungi Raja. Kalian semua cuma pelayan! Sacrifice! Sehebat apapun kalian semua cuma umpan demi menjaga eksistensi Raja," tegas mahasiswa 3 dengan berapi-api seperti sedang berorasi.

Sang dosen tertawa senang melihat ketiga mahasiswanya yang begitu bersemangat dengan pendiriannya masing-masing. Sedangkan ketiga mahasiswanya masih saling adu mulut tentang kehebatan bidak masing-masing.

"Bagus sekali," dosen berkata sambil berusaha melerai ketiga mahasiswanya. "Pion itu keren, tidak mengenal kata mundur. Jika berhasil bertahan dia bisa berubah jadi bidak apapun. Pion juga merupakan pasukan garis depan, butuh nyali besar untuk berada di situ," dosen mengedipkan matanya pada mahasiswa 1. Mendengar penjelasan dosen, mata mahasiswa 1 berbinar-binar.

Dosen melanjutkan, "Dan benar sekali, Ratu adalah yang paling leluasa dalam gerak, bidak yang dipertahankan agar tetap di sisi Raja hingga akhir. Tapi...kalau Pion mampu mencapai ujung, Ratu bisa ada dua atau lebih loh." Tawa percaya diri mahasiswa 2 berubah menjadi senyum tersipu-sipu.

"Raja. Bidak utama dalam catur. Jika Raja mati, permainan selesai," dosen menatap mahasiswa 3 yang menatapnya tajam dengan ekspresi yang serius. "Tapi jangan lupa, Raja punya keterbatasan. Karena keterbatasannya itu Raja butuh pelayan yang banyak untuk melindunginya. Selesainya permainan juga karena bantuan para pelayan, bukan dari tangan Raja sendiri." Mahasiswa 3 seperti kehilangan kata-kata, air wajahnya berubah dan rahangnya terlihat menegang.

Dosen melanjutkan penjelasannya, "Catur adalah permainan strategi. Strategi itu antara lain sikap pantang mundur, tahu kapan maju dan kapan mundur dan kapan bertahan, mengambil langkah pendek atau panjang, termasuk juga pengorbanan, dan kerja sama. Setiap bidak punya karakteristik dan tugasnya masing-masing yang jika dijalankan dengan baik maka tujuan bersama akan tercapai. Dan pada akhirnya semua permaian akan berakhir. Semua bidak akan masuk ke dalam kotak yang sama dan papan pun dilipat. Baik Pion, Ratu maupun Raja tinggallah sebatas nama. Tidak ada lagi langkah yang bisa diambil. Tidak ada strategi. Tak ada lawan maupun kawan. Semua berakhir sampai permainan yang baru dimulai.”

"Hampir sama seperti di kehidupan nyata. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan serta tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan porsinya. Siapapun kamu saat ini, Pion, Ratu, Raja atau lainnya, jalani 'permainan' hidupmu dengan sebaik-baiknya. Jika saat ini kamu adalah Pion, jalanilah peranmu dengan sepenuh hati. Jika kamu saat ini adalah Raja, bertindaklah dengan bijaksana. Karena tugas manusia adalah berusaha sebaik-baiknya dan menjalankan peran yang telah diamanatkan kepada kita dengan penuh tanggung jawab. Sampai saatnya kehidupan usai dan kita kembali ke dalam kotak yang sama. Tak ada lagi yang namanya status atau strategi. Di mata Tuhan kita semua sama. Hanya amalan yang menjadi pembeda."

Setelah mencium tangan sang dosen, ketiga mahasiswa pulang dengan membawa pemahaman baru. Mereka pun berkomitmen untuk berhenti berdebat, lebih menghormati dan menyayangi satu sama lain, dan menjalankan peran mereka sebaik-baiknya.

***

I'm done.

Devira
11 Desember 2018
@Rektorat Universitas Padjadjaran

Ditulis sembari menunggu. Sementara orang yang ditunggu sedang sibuk menjamu tetamu mulai dari ruang rapat, menuju miniatur di lobi, masuk ke ruangan baru, mengantar mereka hingga jemputan datang, kemudian bergegas kembali ke ruangannya.

Selasa, 08 Januari 2019

GRADUATION #5 : Untuk Ibu


Dear, ibu.

Yang jauh di mata dan dekat di hati.

Ibu pembimbing. Sesama anggota bulan Desember. Bisa dikatakan, ibu adalah orang pertama yang percaya bahwa saya mampu dan punya potensi untuk menjadi apapun yang saya inginkan. Butuh waktu bertahun-tahun sebelum saya benar-benar paham betapa care dan sabarnya ibu. Terkadang suka ketawa sendiri mengingat bagaimana tingkah saya dahulu waktu masih dalam bimbingan ibu. Memang tak banyak guru yang mampu memahami pola pikir dan gaya belajar saya, bahkan hingga kini. Betapa Tuhan tak pernah keliru menentukan pertemuan dan waktu. Berkat ibu, sekolah bisa begitu menyenangkan sehingga kelulusan pun menjadi momen tak terlupakan. 10 tahun berlalu. Banyak hal yang berubah, banyak juga yang tidak. Semoga yang berubah maupun tidak menjadikan diri lebih baik.

Terima kasih untuk tidak mudah menyerah terhadap saya. Terima kasih telah mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah.

Devira
Januari 2019